TukangGosip.com - Bagi banyak pemakai jilbab, pertanyaan halal-tidaknya jilbab yang dikenakan menjadi kekhawatiran tersendiri. Karena hal ini berkaitan dengan diterima dan ditolaknya amal kebaikan. Sayangnya, pertanyaan tentang halal-tidaknya jilbab tersebut multipretatif. Tidak banyak informasi yang mengimbangi tulisan-tulisan pada poster jilabab yang terpampang dipinggir jalan itu. Tulisan-tulisanya terlalu singkat dan banyak kesan ‘provokatif’.
Tapi bagi MUI, lembaga yang mengeluarkan sertifikat halal pada jilbab bermerek tersebut jelas. Label halal ditujukan pada zat (materi) yang digunakan sebagai bahan jilbab tersebut, bukan pada aspek-aspek lainnya yang terlalu banyak untuk didiskusikan.
Tapi entah kenapa sertifikat MUI dan iklan jilbab halal berujung polemik. Padahal dahulu kita pernah diingatkan dengan sepatu berkulit babi.
Apa karena ini tentang jilbab? dan jilbab adalah tentang Islam? dan bila berbicara tentang Islam, kita kemudian dibenturkan antar satu kelompok dengan kelompok yang lain? Atau kemudian kita ikut memburu, menghujat dan mendengki dengan slogan “Kapitalisasi agama”, “Menjadikan agama sebagai alat bisnis?”
Ya memang, agama, dengan keluguannya, bisa dimanfaatkan untuk kepentingan-kepentingan bisnis, bahkan bisa lebih dari itu, semisal menjadi alat politik. Kita sudah sama-sama tahu tentang itu.
Atau memang masyarakat kita yang terlalu lugu menafsirkan “Apakah jilbab yang Anda pakai halal?”, sehingga kita ribut mempermasalahkan halal atau tidaknya jilbab yang kita gunakan. Atau memang, ada konspirasi bang “Yudi” untuk mengadu domba kita, salah satunya dengan iklan ini. Atau mungkin, si pembuat iklan memang ingin ‘melumpuhkan lawan-lawan bisnisnya’ dengan simbol-simbol halal MUI itu?’
Saya mengiuti perenungan Fahd Padheppi, dalam statusnya di salah satu media sosial dengan judul “Istriku, Maafkan Aku Jika Jilbabmu Tidak Halal”. Dan saya pun kembali bertanya-tanya kepada diri sendiri, apakah sepatu yang dipakai sudah halal? apakah nasi yang kita makan juga sudah halal?
Mari kita renungkan kembali dari mana uang yang kita pakai untuk menafkahi keluarga, membeli beragam kebutuhan. Bukan sekedar tentang jilbab. Sudah halalkah?
Mari kita renungkan kembali dari mana uang yang kita pakai untuk menafkahi keluarga, membeli beragam kebutuhan. Bukan sekedar tentang jilbab. Sudah halalkah?
